Polresta Cirebon, terus mendalami dugaan penculikan anak yang melibatkan pria paruh baya di Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon.
Aksi penculikan ini menjadi viral lantaran warga menyerang rumah terduga pelaku yang direkam dan disebar ke media sosial hingga mendatangkan pengamanan polisi.
Kasat Reskrim Polresta Cirebon, Jawa Barat, Kompol I Putu Ika Prabawa, menerangkan bahwa pihaknya masih mendalami unsur-unsur yang dinilai mengarah pada dugaan penculikan.
Pemeriksaan mendalam ini terjadi setelah terduga pelaku yang berusia 52 tahun mengungkapkan dan menerangkan semua yang dia lakukan.
Di hadapan penyidik, pelaku berinisial S ini menceritakan bahwa kejadian ini berlangsung singkat. Pada Senin (22/8/2025) pukul 16.00 WIB, terduga pelaku S pergi dari rumahnya hendak ke tempat pemakaman umum (TPU) makam orangtuanya. Tak jauh dari makam, inisial S menemukan seorang anak yang sedang tersesat seorang diri di pinggir jalan Pantura. S lalu menanyakan kepada anak tersebut mengenai asal rumahnya.
Namun, anak yang masih berusia 4 tahun ini hanya menyebut kata "Gintung" . Karena khawatir tertabrak kendaraan, S berusaha menyelamatkan anak tersebut dengan membawanya ke area makam.
"Isu yang tersebar terlapor melakukan dugaan penculikan anak, tetapi saat ini masih didalami, benar atau tidaknya, karena S menemukan anak yang terlepas dari pantauan orang tuanya sehingga S mengajak anak tersebut dengan maksud mengamankan dari kendaraan yang ada di pinggir jalan," kata Putu.
Putu menyebutkan bahwa aktivitas S membawa anak kecil itu terekam kamera pemantau di sekitar.
S tetap beraktivitas ziarah dan mengunjungi makam orangtuanya, sedangkan anak kecil yang dibawa S bermain di sekitar tanpa dilakukan tindakan yang mencurigakan.
S langsung membawa anak kecil pulang. Selama proses perjalanan, S sempat mampir ke warung untuk meminta tolong kepada warga sekitar agar memposting perihal adanya anak yang tersesat di jalan agar orang tuanya dapat menemuinya. Beberapa orang ditemui, tetapi tak satu pun dari mereka berhasil memposting karena tak ada kuota, tak memiliki Facebook, dan lainnya.
Setiba di rumah yang ditinggal seorang diri, S langsung memandikan sang anak kecil dan memakaikan pakaian bekas cucunya sendiri.
Bahkan, S memasakkan mi instan untuk si anak tersebut. Setelah makan mi, S memfoto anak itu lalu mengunggahnya ke media sosial Facebook dengan catatan bahwa dia menemukan anak di pinggir jalan dan bagi yang mengenali agar menghubungi nomornya.
"Jadi, terduga pelaku memposting anak di akun Facebook pribadinya, mengumumkan bahwa ada anak telantar bagi yang mengetahui dan memiliki anak, agar menghubungi terduga pelaku, nomornya juga dicantumkan," tambah Putu.
Tak lama setelah mengunggah hal itu, kedua orangtua sang anak mendatangi rumahnya.
Keduanya sempat mengucapkan terima kasih dan membawa anaknya pulang. Perihal adanya keterangan sakit di bagian perut, ternyata S memberikan semua bumbu mi instan kepada sang anak, termasuk bumbu pedasnya alias cabai.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan sang anak saat ditanya orangtuanya. Putu juga menerangkan bahwa sang anak bersama orangtuanya sudah menjalani proses visum di rumah sakit terdekat.
Hasil visum tersebut membuktikan tidak ada luka dan seluruhnya masih dalam keadaan normal. "Kami sudah visum terhadap anak korban, hasilnya tidak ditemukan tanda kekerasan. Masalah sakit perut diduga karena mi instan yang dimasakkan terduga pelaku yang tidak sengaja diberikan semua bumbu, termasuk pedasnya," terang Putu.
Putu menyebutkan bahwa dugaan penculikan yang hingga membuat warga geram lalu melakukan penyerangan diduga akibat adanya miskomunikasi atau juga ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini membuat kejadian itu berlangsung sangat cepat.




