Tutup Tahun dengan Refleksi dan Humor, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Sampaikan Permohonan Maaf kepada Jajaran Birokrasi
Table of Contents
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menutup tahun 2025 dengan pidato akhir tahun yang sarat refleksi, evaluasi, dan pesan moral di hadapan seluruh jajaran birokrasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dalam suasana yang hangat dan emosional, KDM secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada para pegawai, mulai dari Sekretaris Daerah, para asisten, kepala dinas, hingga tenaga ahli, atas gaya kepemimpinannya yang selama ini dikenal menuntut dan sangat detail.
Pidato akhir tahun tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan momentum evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan Jawa Barat yang menurut KDM kini harus bergerak dari pola administratif menuju pendekatan yang lebih teknis, filosofis, dan berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Permohonan Maaf dan Gaya Kepemimpinan “Kata Hati”
Salah satu momen paling menyentuh dalam pidato tersebut adalah ketika KDM secara jujur mengakui bahwa dirinya kerap memimpin dengan mengedepankan “kata hati”, bahkan terkadang mengesampingkan pakem birokrasi yang dianggap kaku.
Ia menyadari bahwa kebiasaannya memberikan arahan secara mendadak, termasuk melalui pesan singkat WhatsApp di luar jam kerja, dapat menjadi beban tersendiri bagi jajaran birokrasi.
“Saya mau minta maaf pada seluruh jajaran birokrat Jawa Barat, dari Sekda, asisten, kepala dinas, sampai tenaga ahli. Kenapa? Karena saya ini kalau memimpin mengikuti kata hati, tidak hanya dalam rumusan visi-misi,” ungkap KDM dengan nada tulus.
Ia juga menyinggung sejumlah kepala dinas yang menurutnya tampak kelelahan karena sering kali harus menyesuaikan ulang desain dan konsep proyek.
Namun demikian, KDM menegaskan bahwa sikap perfeksionis tersebut semata-mata dilakukan untuk memastikan setiap program pembangunan memiliki identitas, nilai estetika, serta dampak nyata bagi masyarakat Jawa Barat.
Evaluasi 2025: Identitas Pembangunan dan Kepedulian Lingkungan
Dalam evaluasi tahun 2025, KDM menekankan pentingnya pembangunan berbasis identitas budaya. Ia menginginkan setiap infrastruktur publik mulai dari jembatan, sekolah, hingga kantor pemerintahan, mencerminkan karakter empat zona kebudayaan Jawa Barat, yakni Sunda Kulon, Sunda Wetan (Cirebon–Indramayu), Sunda Kidul, dan Sunda Tengah.
Selain itu, KDM juga menyoroti penataan ruang publik yang dinilainya masih belum tertib dan kurang estetis. Ia menyampaikan kebijakan pembongkaran reklame fisik di sepanjang jalan provinsi untuk digantikan dengan reklame digital, serta pelarangan penggunaan plastik hijau di warung-warung sebagai upaya mengembalikan nuansa saung tradisional.
Terkait isu kebencanaan, KDM memberikan peringatan keras bahwa banjir yang melanda wilayah Bekasi, Karawang, hingga Cirebon merupakan dampak dari hilangnya keseimbangan dan “sakralitas” alam.
Ia menyebut kerusakan hutan serta alih fungsi lahan di kawasan kaki Gunung Gede dan Gunung Ciremai sebagai faktor utama yang harus segera dibenahi.
Arahan 2026: Teknis, Keadilan Investasi, dan Transparansi
Menatap tahun 2026, Gubernur Jawa Barat menetapkan tiga prioritas utama yang harus menjadi pegangan seluruh jajaran birokrasi.
Pertama, kepemimpinan teknis, bukan sekadar administratif. Evaluasi anggaran daerah tidak boleh hanya berfokus pada kelengkapan dokumen, melainkan harus menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. KDM menegaskan tidak boleh lagi terjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang besar sementara masyarakat masih membutuhkan layanan publik.
Kedua, pendidikan berbasis industri. KDM meminta Dinas Pendidikan aktif menjalin komunikasi langsung dengan kawasan industri di Subang, Majalengka, dan Karawang agar kurikulum pendidikan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia menegaskan bahwa masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus investasi.
Ketiga, transparansi dan mitigasi bencana. Jawa Barat diharapkan menjadi provinsi terdepan dalam komitmen ekologi, keterbukaan pengelolaan anggaran, serta penyelesaian persoalan kompensasi warga terdampak aktivitas pertambangan, termasuk di wilayah Cigudeg–Rumpin yang ditargetkan rampung pada Januari 2026.
Pesan Penutup: Integritas dan Keluarga
Pidato akhir tahun tersebut ditutup dengan pesan ringan namun bermakna tentang integritas pribadi dan keluarga.
KDM mendoakan agar seluruh pegawai mendapatkan rezeki yang lebih baik dan kehidupan yang berkah di tahun mendatang, disertai candaan yang mengundang tawa hadirin.
“Selamat tahun baru, semoga rezekinya bertambah dan hidupnya berkah. Tapi satu pesan saya, yang kelebihan rezeki jangan tambah istri. Kalau tambah istri, itu menghina gubernur, karena gubernur saja belum dapat sampai hari ini,” ujarnya sambil berseloroh.
Pidato tersebut menegaskan komitmen KDM untuk terus mendorong birokrasi Jawa Barat yang bekerja dengan hati, berintegritas, serta berpihak pada kepentingan rakyat dan kelestarian alam.