Momentum Hari Jadi Ke 544 Kabupaten Cirebon memperkuat pembangunan Daerah Berbasis Budaya Dan Pariwisata
Table of Contents
Ada yang berbeda dari peringatan hari jadi tahun ini. Bukan sekadar seremoni, bukan pula sekadar mengenang masa lalu. Di balik angka 544, tersimpan napas panjang perjuangan, doa para leluhur, dan harapan yang belum selesai ditunaikan.
Tanggal 2 April bukan hanya penanda waktu. Ia adalah panggilan. Panggilan untuk kembali melihat akar, untuk mengingat siapa kita, dan untuk menentukan akan ke mana langkah ini dibawa.
Bupati Cirebon, Imron, berdiri di tengah momentum itu dengan pesan yang sederhana namun menggugah: sejarah bukan untuk dikenang saja melainkan untuk dilanjutkan.
Di balik kata-katanya, tersirat beban sekaligus harapan besar. Bahwa apa yang telah dibangun oleh para pendahulu, kini berada di tangan generasi hari ini.
“Para pendahulu telah berjuang membentuk Kabupaten Cirebon. Hari ini, kita punya tanggung jawab melanjutkan perjuangan itu untuk kesejahteraan masyarakat.”
Kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia seperti cermin, memantulkan pertanyaan kepada setiap warga: sudahkah kita menjadi bagian dari perjuangan itu?
Pembangunan, menurut Imron, tak lagi bisa hanya diukur dari beton dan aspal. Jalan bisa dibangun, gedung bisa didirikan, tapi tanpa jiwa, tanpa budaya semuanya akan terasa kosong. Justru di situlah kekuatan Kabupaten Cirebon berada pada nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya, pada tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya bukan masa lalu.
Ia adalah identitas. Dan identitas itulah yang akan menentukan masa depan.
Seruan pun menggema bukan hanya kepada pemerintah, tetapi kepada seluruh masyarakat. Untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan yang ada. Karena budaya yang ditinggalkan, perlahan akan hilang. Tapi budaya yang dirawat, akan menjadi kekuatan.
Dukungan pun datang dari Dedi Mulyadi, yang melihat Cirebon bukan sekadar wilayah, melainkan potensi besar yang siap bersinar. Ia membayangkan masa depan di mana budaya bukan hanya kebanggaan, tetapi juga menjadi daya tarik, menjadi penggerak ekonomi, dan menjadi wajah dari kemajuan daerah.
Namun jalan menuju ke sana bukan tanpa syarat. Infrastruktur harus dituntaskan. Kota harus ditata. Lingkungan harus dijaga. Dan yang terpenting karakter masyarakat harus dibangun.
Karena pada akhirnya, sebuah daerah tidak hanya dikenal dari apa yang dimilikinya, tetapi dari siapa yang menghidupkannya.
Di usia ke-544 ini, Kabupaten Cirebon berdiri di persimpangan, antara menjadi penonton sejarah, atau menjadi penulis masa depan.