Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Sampah Jadi Telur dan Ikan, Inovasi Bersemi Farm di Bandung Jadi Solusi Lingkungan dan Ketahanan Pangan

25 Juni 2026 | Juni 25, 2026 WIB Last Updated 2026-06-25T18:53:43Z


Persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar di Kota Bandung melahirkan sebuah inovasi berbasis masyarakat yang tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan sumber pangan bergizi. Melalui program Bersemi Farm, sampah organik rumah tangga diolah menjadi telur, ayam, ikan, hingga entok dengan memanfaatkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).



Inovasi karya dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa, tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Bandung dan saat ini dikembangkan di RW 02 Kelurahan Pasirlayung.



Linus mengaku gagasan tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap persoalan sampah yang terus berulang di Kota Bandung.




"Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah, dan dari situ lahir Bersemi Farm dari sampah menjadi gizi," ujar Linus Pasasa.



Konsep Bersemi Farm mengintegrasikan pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot BSF yang mampu mengurai limbah organik hanya dalam waktu sekitar 48 jam. Sampah dapur seperti sisa sayuran dan kulit buah dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sementara maggot yang dihasilkan menjadi pakan ayam kampung, ikan, dan entok.



Sistem tersebut menciptakan ekonomi sirkular tanpa limbah karena seluruh hasil pengolahan kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan masyarakat. Bahkan, kotoran ternak yang dihasilkan juga digunakan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi maggot sehingga siklus pengolahan dapat berjalan secara berkelanjutan.




Berbeda dengan metode komposter yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan, teknologi maggot BSF mampu mempercepat proses penguraian sampah organik secara signifikan.




Salah satu fasilitas unggulan dalam program ini adalah "Apartemen Ayam Maggot", sebuah kandang vertikal yang dirancang untuk menyesuaikan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan. Selain itu, sistem tersebut juga dilengkapi teknologi panen telur otomatis yang memungkinkan telur mengalir ke wadah penampungan tanpa risiko pecah.




Saat ini, Bersemi Farm memiliki kapasitas pengolahan hingga 300 kilogram sampah organik per hari. Sementara itu, produksi sampah organik warga RW 02 Pasirlayung baru berkisar antara 50 hingga 75 kilogram per hari.




Karena kapasitas yang masih tersedia cukup besar, Linus membuka peluang bagi wilayah lain di Kota Bandung untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.



"Kami sengaja membuat kapasitas besar, sehingga jika ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini dan tidak lagi berakhir di TPA," katanya.




Keberhasilan Bersemi Farm tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Institut Teknologi Bandung, Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Pasirlayung, Dinas Lingkungan Hidup, Tim Gasla, Bank Sampah Bersemi 02, PKK, hingga masyarakat yang secara disiplin melakukan pemilahan sampah dari rumah.




Dalam praktiknya, sampah organik diproses menjadi pakan maggot, sedangkan sampah anorganik dipilah melalui bank sampah sehingga jumlah residu yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi sangat minim.



Program ini pun mulai menarik perhatian banyak pihak dan berkembang menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Bandung. Sejumlah wilayah seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, dan Cipadung telah mulai mengadopsi konsep serupa untuk mengurangi beban sampah perkotaan.




Bahkan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman turut melakukan kunjungan untuk mempelajari model pengelolaan sampah berbasis peternakan terpadu tersebut.




Linus berharap inovasi ini dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah di Indonesia.


"Kami berharap ide ini bisa diadopsi di seluruh Indonesia, karena sampah organik seharusnya selesai di tingkat lingkungan dan berubah menjadi sumber pangan serta ekonomi," tegasnya.



Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, mengatakan perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah telah dimulai sejak 2023 melalui edukasi pemilahan sampah menggunakan komposter sederhana. Namun, perubahan yang lebih signifikan terjadi setelah hadirnya Program Gasla pada awal 2026.




Kini masyarakat telah terbiasa memilah sampah organik menjadi dua kategori, yakni sisa makanan untuk pakan ayam dan limbah dapur untuk pakan maggot.



"Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah, bahkan saya sendiri ikut belajar mengolah sampah agar bisa memberikan manfaat," ujar Rahayu.



Melalui pendekatan teknologi sederhana, edukasi, dan keterlibatan aktif masyarakat, Bersemi Farm menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi kota-kota di Indonesia dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah di masa depan.

×
Berita Terbaru Update