Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan menyebabkan debit air Sungai Cijemit melonjak drastis hingga menyeret material pembangunan Jembatan Cipedak di Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, Minggu (29/3/2026).
Peristiwa ini langsung mendapat perhatian dari Bupati Kuningan, , yang turun langsung ke lokasi bersama Sekretaris Daerah Uu Kusmana, jajaran Dinas PUTR, BPBD, serta unsur Forkopimcam setempat.
Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, kenaikan debit air Sungai Cijemit mencapai sekitar 8 meter dan menjadi kejadian pertama dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh hujan deras disertai angin kencang yang terjadi sejak Sabtu (28/3/2026) sore.
Akibatnya, material pembangunan jembatan berupa besi konstruksi yang belum terpasang permanen hanyut terbawa arus sungai.
“Ini kejadian luar biasa yang tidak terduga. Material besi yang terbawa arus masih diupayakan untuk bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Bupati Dian.
Jembatan Cipedak merupakan akses vital yang menghubungkan wilayah Ciniru, Gunungmanik, Pinara hingga Cipedak. Jalur ini sangat penting bagi mobilitas masyarakat serta distribusi hasil pertanian.
Pemerintah daerah pun langsung mengambil langkah cepat dengan mengupayakan pemanfaatan kembali material yang masih bisa digunakan serta mendorong pembangunan jembatan sementara agar aktivitas warga tetap berjalan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR Kuningan, Tedy, memastikan pekerjaan fisik jembatan tetap berjalan meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala teknis di lapangan.
Ia menjelaskan, struktur abutmen di sisi utara dan selatan jembatan dalam kondisi stabil. Sementara itu, bagian sayap utara juga telah diperbaiki dan dinyatakan aman setelah sebelumnya terdampak banjir.
Namun, tantangan utama saat ini adalah penanganan material besi jembatan sepanjang 50 meter yang sempat hanyut. Dari lima bagian yang ada, satu bagian mengalami kerusakan cukup berat sehingga sulit digunakan kembali.
“Material besi yang terbawa arus sedang kami upayakan untuk ditarik kembali. Jika tidak memungkinkan diperbaiki, maka akan dilakukan penggantian demi menjamin keamanan struktur,” jelasnya.
Selain itu, hilangnya pilar tengah jembatan akibat derasnya arus membuat proses pengerjaan harus dilakukan dengan metode khusus. Ditambah kondisi cuaca yang belum stabil, waktu penyelesaian proyek diperkirakan mengalami penyesuaian.
Target pembangunan diperkirakan mundur sekitar tiga minggu dari jadwal semula. Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada kerusakan fatal pada desain utama jembatan.
“Yang terpenting adalah keamanan dan kekuatan struktur. Kami upayakan akses masyarakat bisa segera normal kembali,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi, khususnya di wilayah rawan bencana seperti bantaran sungai.



