Notification

×

Iklan

Iklan

Sekolah Rakyat Kabupaten Cirebon Tunjukkan Perubahan Positif, Siswa Mulai Disiplin dan Mandiri

19 Oktober 2026 | Oktober 19, 2026 WIB Last Updated 2026-10-19T06:09:13Z


Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon mulai menunjukkan perubahan positif dalam membentuk karakter siswa. Melalui pendampingan di sekolah dan asrama, anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengatur waktu kini mulai terbiasa menjalani rutinitas harian secara lebih tertib dan mandiri.



Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon, Mimin Kasminah, mengatakan perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang dirasakan sejak program pendidikan itu mulai berjalan pada 2026.




Menurutnya, perubahan terlihat dari kebiasaan siswa dalam mengatur waktu tidur, bangun pagi, beribadah, menjaga kebersihan diri, hingga menunjukkan sikap santun kepada orang lain.



“Alhamdulillah, sekarang sudah banyak perubahan. Bertemu dengan siapa pun mereka pasti salam tangan, cium tangan. Bahkan tidur pun sekarang sudah menjadi lebih tertib,” kata Mimin saat ditemui, Jumat (16/10/2026).





Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pemberian akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program tersebut juga menekankan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian sebagai bekal bagi siswa untuk memperbaiki kehidupan mereka pada masa mendatang.




Pendidikan untuk Memutus Rantai Kemiskinan

Mimin menjelaskan, Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pada masa Presiden RI Prabowo Subianto yang bertujuan memutus rantai kemiskinan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Program yang dilaksanakan Kementerian Sosial tersebut menyasar masyarakat pada desil 1 dan desil 2, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah dalam pengelompokan kesejahteraan yang digunakan pemerintah.



Proses penjangkauan calon siswa dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah berupaya menemukan anak-anak yang memenuhi kriteria sasaran program, termasuk mereka yang sebelumnya belum memperoleh akses pendidikan secara memadai.



“Program ini bertujuan memutus rantai kemiskinan masyarakat, sehingga tidak menjadi warisan untuk generasi selanjutnya,” ujarnya.



Menurut Mimin, upaya tersebut tidak hanya berfokus pada perubahan kehidupan anak-anak melalui pendidikan. Peningkatan kondisi ekonomi keluarga juga menjadi bagian penting agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.



Dengan bekal pendidikan, karakter, dan keterampilan, para siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi mandiri, memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan, serta mampu membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.




Menampung Siswa dari Empat Daerah

Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon mulai menggelar kegiatan open house pada 31 Juli 2026. Sementara itu, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 15 Agustus 2026 setelah pihak sekolah mempertimbangkan kondisi sarana dan prasarana yang masih terdampak debu pembangunan.



Mimin menyebutkan, sekolah tersebut dirancang untuk menampung 540 siswa dari empat daerah, yaitu Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka.



Rinciannya, sebanyak 270 siswa berasal dari Kabupaten Cirebon, sedangkan Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka masing-masing memperoleh kuota 90 siswa.




Pada awal pelaksanaan kegiatan, jumlah siswa yang hadir tercatat sebanyak 529 orang.



Sebagai sekolah berasrama, Sekolah Rakyat menerapkan pola pendidikan selama 24 jam. Selain mengikuti pembelajaran dengan kurikulum pendidikan nasional, siswa juga mendapatkan pembinaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di asrama.



Pendampingan Jadi Tantangan

Dalam pelaksanaannya, pembentukan karakter siswa menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada masa awal kegiatan. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia untuk mendampingi siswa secara optimal.



Mimin mengatakan, wali asuh yang idealnya mendampingi sekitar 10 siswa saat itu harus menangani lebih dari 50 siswa.



Untuk mengatasi kondisi tersebut, pihak sekolah mendapatkan bantuan pendampingan dari tiga Sekolah Rakyat di kabupaten dan kota lain selama pelaksanaan MPLS.

Menurutnya, pendampingan yang konsisten menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan positif dan membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan berasrama.

Mimin berharap, perubahan perilaku yang mulai terlihat dapat terus berkembang seiring dengan keberlanjutan program pembinaan. Dengan demikian, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Melalui pendidikan yang terintegrasi dengan pembinaan karakter dan kemandirian, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dan keluarga.
×
Berita Terbaru Update