Pembangkit itu termasuk dalam proyek strategis nasional ketenagalistrikan yang totalnya mencapai 35 ribu megawatt dan akan memasok listrik melalui sistem jaringan Jawa - Madura - Bali (Jamali).
Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, M Priharto Dwinugroho, mengatakan, manajemen Cirebon Power sudah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk pendaftaran rencana mitigasi emisi, karena sudah memiliki rencana monitoring emisinya.
Menurut dia, pembangkit Cirebon Power unit I menggunakan teknologi super critical, sedangkan pembangkit unit II menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan, yakni ultra super critical.
Bahkan, teknologi ultra super critical tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan batu bara sampai 40 persen, sehingga emisi yang dihasilkan juga semakin rendah.
"Cirebon Power sudah merencanakam untuk mengurangi emisi, karena pembangkit batu bara tidak lepas dari rencana pengurangan emisi, sehingga harus didorong untuk segera beroperasi," ujar M Priharto Dwinugroho saat ditemui usai menghadiri Kunjungan Kerja Reses Anggota Komisi VII DPR RI di pembangkit Cirebon Power unit II, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon.
Pihaknya berharap, pembangkit Cirebon Power unit II mulai beroperasi secara commercial operation date (COD) pada Mei 2023 dan seluruh prosesnya berjalan lancar.
SC : tribunjabar



