Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, angka perceraian di Indonesia terbilang tinggi.
Data yang dimilikinya, jumlah orang yang menikah pada 2021 mencapai 1,9 juta. Kendati demikian, angka perceraian tembus 581.000 pada tahun yang sama.
Melihat tingginya angka perceraian, Hasto menjelaskan bahwa penyebab banyak keluarga bercerai karena toxic people atau orang yang beracun.
"Saat ini, (angka) perceraian tinggi karena banyak keluarga keluarga asalnya adalah orang toxic bertemu orang waras," ujar Hasto dalam keterangan resmi.
"Orang waras bertemu orang toxic atau orang toxic bertemu orang toxic akhirnya kelahi terus dan terjadilah perceraian," sambungnya.
Toxic people sebagaimana disinggung Hasto adalah sosok yang mendatangkan dampak buruk bagi orang di sekitarnya dalam jangka panjang. Orang yang toxic memiliki sifat yang egois, manipulatif, kasar, dan kurang berempati.
Dilansir dari Psychology Today, orang yang toxic juga narsis bahkan sociopathic atau menunjukkan perilaku dan sikap antisosial.
Toxic people dapat ditemukan di keluarga, teman, rekan kerja, atasan, tetangga, atau pemimpin dalam sebuah organisasi.
Untuk di Cirebon sendiri Lebih dari 7.000 pasangan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bercerai setiap tahun.
Artinya, setiap hari rata-rata 20 pasangan berpisah. Berdasarkan data Pengadilan Agama Sumber Kabupaten Cirebon, selama 2022, pengajuan perceraian mencapai 7.743 perkara. Sebanyak 7.571 pasangan diputuskan bercerai.



