“Kenapa saya sebut ‘semut merah’, karena yang kecil-kecil saja dicoba. Yang ‘gajah-gajah’ sendiri, yang kecil-kecil buat sendiri,” ujar Gus Jazil di gedung DPR, kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (9/6/2022).
Selama ini, menurut Gus Jazil, koalisi partai terjadi karena partai kecil bergabung dengan partai besar. Hanya saja, kata Gus Jazil, partai kecilnya kadang tidak memiliki peran apa-apa dalam koalisi. "Kan kita ini sering berkoalisi semut dengan gajah di suatu tempat. ‘Semut-nya’ juga enggak dapat peran apa-apa," tandas dia
Menurut Gus Jazil, tidak menjadi masalah jika nanti terjadi pertarungan koalisi ‘gajah dan semut’ pada Pilpres 2024. Hal yang terpenting, kata dia, kontestasi berlangsung sportif, damai, tidak ada politik identitas dan saling menjatuhkan satu sama lain. “‘Semut dan gajah’ diadu dengan sportif tanpa saling curiga,” ungkapnya.
Sebelumnya, Gus Jazil mengatakan PKB dengan PKS memiliki romantisme masa lalu ketika bergabung dalam koalisi poros tengah bersama sejumlah parpol berbasis Islam lainnya, seperti PAN, PBB, dan PPP pada 1999. Saat itu, PKS masih bernama Partai Keadilan (PK) dan koalisi poros tengah berhasil menjadikan KH Abdurrahman Wahid presiden pada 1999. "Artinya koalisi PKB dengan PKS ini bukan hal baru, bahkan pernah mendudukkan orang sebagai presiden. Apakah 2024 bisa membangun koalisi dan menjadikan capres koalisi itu menang, sangat mungkin?,” tutur Gus Jazil.
PKB dan PKS, menurutnya, memiliki banyak kesamaan, antara lain keduanya merupakan parpol yang lahir di era Reformasi dan sama-sama memiliki basis suara yang kuat di basis suara kelompok Islam. Dia pun yakin koalisi ‘semut merah’ ini bisa menang, karena meskipun kecil, tetapi menggigit.



