Notification

×

Iklan

Iklan

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga BI 7days reverse repo rate 50 bps menjadi 4,25% siap-siap cicilan KPR naik

24 September 2022 | September 24, 2022 WIB Last Updated 2022-09-24T04:30:33Z

#EKONOMI

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga BI 7days reverse repo rate 50 bps menjadi 4,25%. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps.


Bunga acuan digunakan sebagai patokan untuk menentukan suku bunga dana dan bunga kredit. Kebijakan ini dilakukan beberapa saat setelah pemerintah menaikkan harga BBM jenis Pertalite, Solar, dan Pertamax.


Beberapa ekonom menganggap kenaikan suku bunga adalah respon mengantisipasi lonjakan inflasi. Tekanan terhadap rupiah juga diprediksi akan berkurang. "Justru kalau BI tidak menaikkan suku bunga acuan, dampaknya besar, dampak negatifnya besar. Dan itu mempengaruhi ekonomi yang ujung-ujungnya ditanggung oleh masyarakat," katanya.


Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, langkah ini merupakan respon BI terhadap potensi melonjaknya inflasi. Meskipun, kebijakan ini bisa berdampak negatif ke kalangan bawah.

"Yang punya cicilan rumah, cicilan motor jadi lebih mahal cicilannya karena bunganya lebih tinggi. Padahal dari sisi demand-nya sudah juga terkoreksi karena ada inflasi, harga barang mahal, biaya hidup sudah mahal, mencicil di bank juga bakal lebih mahal," katanya.

Naiknya suku bunga acuan akan direspon dengan naiknya suku bunga kredit. Biaya kredit ke perbankan jadi lebih mahal, membuat penyaluran kredit ke sektor riil terhambat. kredit perbankan saat suda menyentuh double digit di atas 10%. Kalau suku bunga acuan naik ini bisa menurunkan kembali penyaluran kredit hingga menahan laju perputaran roda ekonomi. Alhasil masyarakat bawah juga lah yang akan terdampak.

"Nah ini yang perlu diwaspadai, karena dalam kondisi ini kan perlu ada insentif-insentif yang diberikan, terutama masyarakat terdampak yaitu kalangan bawah," katanya menambahkan.

Untuk itu Faisal meminta pemerintah mengoptimalkan program bantuan sosial yang ada. Sebab selama ini ketepatan dan kecepatan penyaluran bansos seperti BLT atau BSU dianggap kurang optimal.

×
Berita Terbaru Update