Pasangan suami istri asal Astana Japura, Kabupaten Cirebon, Hasanudin Masngad Sarti (61) dan Kudaedah Abdul Hayi (60), berhasil menunaikan ibadah haji setelah puluhan tahun konsisten menabung dari hasil berdagang.
Keduanya merupakan bagian dari kelompok terbang (kloter) KJT 05 yang diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kertajati.
Keberhasilan ini menjadi puncak dari perjuangan panjang Hasanudin yang sebelumnya sempat mengadu nasib sebagai penjual asinan buah di Jakarta Pusat selama 12 tahun.
Selama berjualan di Pasar Petojo Ilir Am Sangaji, Hasanudin menyisihkan sedikit demi sedikit pendapatannya yang tidak menentu demi mewujudkan impian ke Tanah Suci.
Setelah mendaftarkan diri, Hasanudin memutuskan kembali ke Cirebon pada tahun 2010 untuk membuka lapak sayuran di Pasar Japura bersama istrinya. Meski sudah mengantongi nomor antrean, mereka tetap harus bekerja keras mengumpulkan biaya pelunasan sembari membiayai kebutuhan tujuh orang anak.
Penghasilan bersih dari berdagang sayur yang berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per hari tetap mereka bagi untuk kebutuhan pokok dan tabungan haji.
"Dari jualan sayur dapatnya sedikit, sehari Rp 200 ribu-Rp 300 ribu paling bersihnya Rp 70 ribu-Rp 60 ribu, dipakai beli beras lauk juga habis. Tapi tetap disisihkan sedikit," imbuh Hasanudin.
Kudaedah memiliki peran penting dalam manajemen keuangan keluarga dengan memanfaatkan sistem arisan pasar untuk menjaga konsistensi tabungan. Ia secara rutin menyisihkan uang harian mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dari hasil dagangannya.
Sumber : cahaya kompascom



